Langsung ke konten utama

Puncak Becici, Yogyakarta 24 September 2018

Malam ini aku memutuskan untuk bercerita tentang dia. dia seorang pria yang ketika itu membuat beberapa jam di hari senin tersebut menjadi ssangat berarti. dia bernama win. banyak nama yang sebenarnya yang dapat kusebutkan untuk sosoknya, anggap saja diceritanya ini dia bernama win. seandainya win membaca tulisan ini. ya setidaknya dia tau apa yang aku rasakan ketika hari itu.

kami memutuskan untuk pergi ke puncak becici. ketika beberapa minggu yang lalu dia sempat beberapa kali mengajak ku jalan tetapi dikarenakan kesibukan ku,aku tak bisa menerima ajakan jalanya. pada hari sabtu dia meminta aku untuk menemani nya membeli buku ke salah satu toko buku yang ada di jogja, tetapi ketika itu aku sedang menjadi panitia di organisasi ku selama 2 hari yang berlokasi di kaliurang. akhirnya dia memaklumin nya.

Hari minggu itu kita chatingan dari tengah malam sampai pagi hari, dan ketika siang hari nya dia mengajak ku jalan. dan kami memutuskan untuk pergi ke puncak becicil pada hari senin jam 4 sore. ketika hari senin aku sedikit molor dikarenakan aku makan nya terlalu lama dan menunggu motornya datang.
"Aku gada kuota , kamu nunggu di tempat yang kamu shareloc ya"
ketika itu aku ngrasa takut, ya takut aja gak ketemu. karena ini pertama kalinya dia jemput. dan ketika dia bilang dia uda di jalan, di situ perut aku mules hahahah. sampai sampai abang aku menertawakan. akhirnya dia datang. pria berkacamata dengan kaos oblong biru yang berdiri di warung. karena di tempat penjemputan itu ramai sekali, aku memutuskan langsung naik motor. dan langsung otw becici.

Jujur saja aku tidak memandang wajah itu, dikarenakan aku juga tidak terlalu fokus denganya aku lebih memfokuskan aku lupa pakai parfum hahaha. selama di perjalan, ada beberapa obrolan yang kuinget
"kita mau liat senjakan"win
"iya, kita mau liat di becicikan ?"
"gak usah, kita berhenti disini aja ya (dipersawahan di jl.ringroad)"
"winnn, tuhkan"
"hahhaa oke gas becici"


selama di perjalan candaan di lontarkannya, aku nyaman ketika itu. masa lalu tak pernah membuuat ku senyaman ini ketika hanya ngobrol. aku rasanya ingin sekali lanjut membahas tentang apapun ketika ngobrol dengan mu. aku tak memikirkan sama sekali tentang percintaan, aku tak ingin membahas siapa wanita dimasa lalu mu.

"win takut ini sepi banget"
"ahahahaha penakut, gini doang"
"win mataharinya uda sembunyi"
"gapapa"
"kira kira kita dapat senja gak ya ?"
"kayaknya engga, paling kita sampai sana maghrib"

ceritanya aku berhentiin dulu ya. nanti aku lanjutin

Komentar